|

Jangan Menghina Buah Hati
Panggilan
buruk kepada anak berdampak negatif
bagi kepribadian dan jiwanya. Sudah
saatnya, orangtua berhati-hati.
“ Aduh, anak saya ini lho, nakal
sekali dan tidak bisa diatur.”
“Anak bodoh, begitu saja tidak becus.”
“Eh, kamu tidak mau dengar ya? Dasar
anak bolot.” Petikan kalimat di atas
sering kali meluncur dengan enaknya
dari para orangtua. Kata-kata tak
layak itu diungkapkan tanpa merasa
berdosa dan menimbang-nimbang dampak
negatifnya.
Setidaknya ada tiga tipe orangtua
yang berkaitan dengan
kalimat-kalimat tak pantas di atas.
Tipe pertama adalah orangtua
“sempurna” yang begitu susah
menerima kesalahan atau kekurangan
anak-anaknya. Lalu kalimat-kalimat
negatif akan keluar dengan mudahnya.
Tipe kedua, jenis orang tua yang
memilih-milih moment untuk
mengucapkan kalimat-kalimat tak
pantas untuk anaknya. Dan tipe
terakhir, orangtua-orangtua yang
berpikiran positif dan selalu meliat
hal positif dari anak-anaknya.
Labeling dan Budaya
Labeling adalah sebuah proses
memberikan predikat tertentu, baik
pada manusia atau benda. Tapi mulai
kini, berhati-hatilah para orangtua
yang sering memberikan label pada
anaknya. Menurut A Handbook for The
Study of Mental Health, labelisasi
yang diberikan pada seseorang akan
menjadi identitas diri orang
tersebut. Jika label yang baik sih
tak jadi masalah. Tapi bagaimana
jika labelnya buruk?
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Dr.
Seto Mulyadi, mengidentifikasi
“labeling buruk” pada anak sebagai
salah satu bentuk kekerasan verbal
yang dilakukan orangtua. Menurut
Seto, pola asuh orangtua yang salah
terhadap anak disebabkan karena
faktor budaya. Kasus orangtua
memojokkan anak dengan kata-kata
yang tidak beretika muncul dari
budaya sudut pandang orangtua yang
keliru. “Orangtua yang tak bijak
sering beranggapan bahwa anak itu
boleh diperlakukan sewenang-wenang.
Orangtua selalu benar sedangkan anak
selalu salah. Lalu tindakan
kekerasan terhadap anak adalah wajar,
bahkan suatu keharusan. Anehnya,
orangtua kerap melakukan pembenaran
atas kebrutalannya dengan dalih,
anak harus diberi ketegasan. Semua
itu keliru dan tidak pada tempatnya,”
Seto menyayangkan.
Seto Mulyadi yang dikenal sebagai
pakar psikologi anak ini mengatakan,
labeling buruk sangat berdampak
negatif bagi perkembangan jiwa anak.
Apalagi bila labeling itu dalam
bentuk yang negatif, seperti
melabelkan anak dengan perilaku
bandel, bodoh, biang kerok dan
sebagainya. Seyogyanya
kebiasaan-kebiasaan buruk ini
dihentikan orangtua. Sebab kalau
tidak, labeling akan menjadi sugesti
bagi anak untuk mensifati
label-label buruk yang dilekatkan
kepadanya itu. Seorang anak bisa
saja menghentikan perbuatan baiknya
manakala ia mengingat-ingat label
yang dilekatkan kepadanya, seperti
ungkapan seorang anak, “Kata mama,
saya nakal dan bodoh.”
Dr. Seto Mulyadi yang akrab
dipanggil Kak Seto ini mengingatkan,
dalam teori labeling itu ada satu
pemikiran mendasar yang akan
berpengaruh di kemudian hari.
“Seseorang yang diberi label sebagai
seseorang yang devian (menyimpang,
red) dan diperlakukan seperti orang
devian akan menjadi devian.”
Anak yang diberi label negatif, lalu
mengiyakan label tersebut bagi
dirinya dan cenderung bertindak
sesuai dengan label yang melekat
padanya. Dengan ia bertindak sesuai
labelnya, orang akan memperlakukan
dia juga sesuai labelnya. Hal ini
menjadi siklus melingkar yang
berulang-ulang dan semakin saling
menguatkan.
Mohammad Fauzil Adhim, pemerhati
masalah anak dan keluarga melihat,
dalam kasus ini ada faktor
ketidaksiapan menjadi orangtua.
“Terkadang pendidikan seseorang itu
tidak menjamin dia untuk siap
memposisikan diri sebagai orangtua.
Orang yang berpendidikan tinggi
sekali pun, kalau tidak siap menjadi
orangtua, dia bisa terjebak pada
kasus ini,” papar Mohammad Fauzil
Adhim yang banyak menulis buku
tentang anak dan keluarga ini.
Merasa diri berharga dan dicintai
adalah hal penting bagi tumbuh
kembang kepribadian dan jiwa anak.
Dan perasaan ini bisa didapatkan
dari respon orang-orang sekitarnya,
terutama orang terdekatnya, orangtua.
Jika respon orangtua positif,
tentunya tidak perlu dicemaskan
akibatnya. Tetapi, adakalanya
sebagai orangtua, tidak dapat
menahan diri sehingga memberikan
respon-respon negatif seputar
perilaku anak. Walau pun
sesungguhnya orangtua tidak
bermaksud buruk.
Tapi tidak selamanya proses labeling
itu buruk. Mohammad Fauzil Adhim
menjelaskan, bila label itu
dilekatkan dengan sifat-sifat
positif, maka hasilnya juga akan
positif. itu jauh lebih baik. “Sejak
awal kelahiran (bayi), labeling baik
itu harus sudah dilakukan dengan
cara memberikan nama yang baik buat
anak, bahkan jauh sebelum anak itu
lahir,” ujarnya. Fauzil Adhim
mengimbau, sudah saatnya orangtua
itu sadar akan posisinya sebagai
pengasuh, pengayom, pendidik, dan
pelindung bagi buah hati.
Tentang yang satu ini, Kak Seto
menambahkan, “Bila orangtua
menginginkan anaknya tumbuh normal
dan sehat dari sisi kejiwaannya,
hendaknya ia mengubah paradigmanya
yang keliru. Anak harus dihargai dan
dilindungi dari tindak kekerasan,
baik kekerasan dalam bentuk fisik
maupun verbal. Anak pun sama dengan
orangtua. Ia mempunyai hak dan
martabat. Hentikanlah budaya
otoriter dalam mendidik anak.”
Pemerhati masalah perkembangan anak
yang lain, Dra. Rahmita Pratama,
dari Yayasan Kesejahteraan Anak
Indonesia mengingatkan, agar
orangtua selalu berusaha bersikap
arif pada anak mereka. “Memang dalam
kondisi tertentu adakalanya orangtua
sudah tidak sabar. Jika kesabaran
sudah diambang batas, sebelum
kata-kata negatif keluar, ada
baiknya orangtua menarik diri
sementara dari anak,” saran Rahmita.
Selain itu, Rahmita menekankan arti
pentingnya orangtua memperhatikan
bagaimana cara berkomunikasi yang
baik dengan anak. Orangtua harus
bertuturkata lemah lembut. Ada
pepatah, anak itu laksana kertas
putih. Orangtua yang akan
mewarnainya. Karenanya, orangtua
harus berhati-hati dan
mempertimbangkan segala ucapannya di
hadapan anak.
Karena anak laksana kertas yang
putih, maka tak satupun orangtua
rela kertas putih itu coreng moreng
tak keruan rupa. Meski kadang lupa,
hakikatnya setiap orangtua ingin
menghiasa kertas putih dengan tinta
dan huruf-huruf emas di atasnya.
Jangan terlambat, mulai sekarang
juga.
Ikhwan Fauzi
|