|

PERANAN WANITA DAN KEBANGKITAN UMMAT
ISLAM MASA KINI
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa
kita hidup dalam era kebangkitan
Islam, setelah sekian lama kaum
Muslimin berada dalam keadaan tidak
sadar dan lelap dalam tidurnya
yang berkepanjangan, seperti
halnya kaum Kahfi, dimana
musuh-musuh mereka mengintervensi
dari Barat, Timur, Selatan dan
Utara. Kemudian menjajah dan
menguasainya, sehingga dengan mudah
menjatuhkan mereka dari agamanya,
yaitu Islam. Lalu diganti
secara paksa peraturan-peraturan
baru, hukum-hukum baru, baik dalam
masalah politik maupun sosial.
Hal-hal yang demikian itu terjadi
pada saat kaum Muslimin dalam
keadaan tidak sadar. Kemudian
berkat perjuangan ahli-ahli fiqih
dan dakwah, maka terjadilah
pembaruan untuk membangun pusat
dakwah Islamiah dan perorangan di
mana-mana.
Dengan takdir Allah, maka
terjadilah kebangkitan ummat
Islam. Hal ini sudah biasa bagi
ummat Islam dan sesuai dengan
sifatnya, bahwa ummat Islam
tidak mungkin mati selamanya,
tanpa bangkit kembali. Karenanya,
agama yang hidup mengharuskan
ummatnya hidup; dan Allah swt.
dalam setiap masa selalu
mengangkat seseorang, untuk
membawa keharuman agama bagi
ummatnya.
Dalam setiap masa selalu timbul
di tengah-tengah ummat Islam,
orang-orang yang membela
kebenaran, walau bahaya
menentangnya, sampai datangnya
hari Kiamat. Maka dari itu,
keluarlah suara-suara untuk
mengajak bagi ditegakkannya
kebenaran dan dipraktekkannya agama
Islam secara utuh serta pembaruan,
sebagaimana dapat dirasakan seperti
sekarang ini.
Sebenarnya, kebangkitan ini meliputi
semua aspek. Sebagian orang
mengira di saat permulaan hanya
suara saja yang timbul, disebabkan
oleh perasaan dan semangat.
Sementara kenyataan menjadi
sebaliknya, setiap waktu bertambah
kuat semangat yang menyala, perasaan
yang hidup dalam kesadaran pada
agama tersebut, dan kebangkitan
berdasarkan pikiran yang sehat,
setelah lama hidup jauh dari
kemurnian dan kebenarannya. Sadar
akan akibat dan keadilannya di
segala bidang.
Sungguh telah berubah semua
perasaan dan simpatik, yang
dulunya di bawah naungan
gerakan Nasionalisme dan
Sosialisme, serta lain-lainnya,
dari aliran yang bertentangaan
dengan agama. Maka,
pikiran-pikiran yang semula
dipengaruhi oleh paham-paham yang
bukan bersumber pada Islam, karena
belum paham terhadap Islam, sekarang
ini mereka sadar akan kebenaran dan
kemurnian dari ajaran Islam. Mereka
paham bahwa Islam itu bukan
ibadat saja, tetapi menyangkut segi
akidah, akhlak yang luhur,
muamalah (jual-beli) yang baik, dan
hukum-hukum yang telah ditetapkan
Allah. Bahkan Islam itu adalah
amanat dan risalah yang dapat
mengatur kehidupan manusia sebelum
lahirnya manusia, sesudah lahir,
ketika masih berupa janin, di waktu
hidup dan ketika mati. Begitu juga
di waktu bangkit kembali.
Kebangkitan ini termasuk
kebangkitan berpikir. Kita telah
melihat buku-buku yang telah ditulis
oleh ahli-ahli pikir
dan penulis-penulis terkenal. Di
mana-mana, terutama di perpustakaan,
penuh dengan bermacam-macam buku
yang dibaca para generasi muda
Islam, mulai dari yang
berpendidikan rendah sampai
yang berpendidikan tinggi,
mereka mempelajarinya secara
mendalam.
Adapun masa kemunduran dan bekunya
pikiran adalah disebabkan oleh
banyak hal, diantaranya ialah:
Pada masa itu banyak
pikiran-pikiran yang condong dan
menganggap harus ikut peradaban
Barat di segala bidang.
Tiada jalan bagi kemajuan, kecuali
mengambil peradaban Barat secara
keseluruhan, baik, buruk, pahit dan
manis. Sehingga para simpatisan
giat mencari dalil untuk
menguatkan kedudukan dan peradaban
orang asing; bahkan hal-hal yang
tidak sesuai dengan peraturan
mereka, dicela dan dianggap tidak
sempurna, misalnya dalam masalah
talak, riba, poligami dan sebagainya.
Sekarang ini lain halnya, semua
masalah dihadapi dengan bahasa
ilmiah dan pikiran yang sehat,
walaupun mereka dalam masa
kemajuan telah mencapai bulan dan
dengan mudah manusia dapat menikmati
hidup yang mewah, tetapi mereka
gagal dalam membina ketenangan
jiwanya. Mereka hanya
memperhatikan sarana bagi sesuatu,
tetapi mereka mengabaikan tujuan
luhur dari kehidupan ini, dan itu
hanya bisa diarahkan oleh Islam.
MASALAH YANG TIDAK DAPAT DIJAWAB
Peradaban masyarakat Barat tidak
dapat menjawab pertanyaan berikut
ini: Untuk apakah manusia ini hidup,
dari mana dan hendak ke mana
mereka pergi?
Peradaban Barat tidak dapat
memberi kebahagiaan dan
kesejahteraan bagi manusia. Maka
Islamlah satu-satunya agama
alternatif yang dapat
mengungkapkan kelemahan dan
ketidakmampuan mereka dalam
menghadapi tantangan kehidupan
yang menuju ke arah
kesejahteraan di dunia maupun di
akhirat. Islamlah yang dapat
menjawab dan memecahkan semua
permasalahan, baik masalah politik,
sosial dan lainnya.
PERANAN KAUM INTELEKTUAL
Perhatian akan masalah-masalah
Islam tidak saja terbatas kepada
orang-orang berusia lanjut, bahkan
tampak lebih besar perhatian
semangatnya di kalangan para
pelajar dan ilmuwannya, baik
laki-laki maupun wanita. Mereka
giat mempelajari masalah-masalah
Islam dan mempraktekkannya di
masjid dan tempat-tempat ibadat
lainnya yang selalu dipenuhi oleh
segenap lapisan ummat Islam.
PERANAN WANITA
Jika kita membaca Al-Qur'an, maka
dapat kita ketahui bahwa penciptaan
Nabi Adam as. bersamaan dengan ibu
Hawa, yang berfungsi sebagai istri
dan kawan hidup beliau.
Kita mengetahui kisah istri
Fir'aun, yang dapat mencegah Fir'aun
dalam niatnya untuk membunuh
Nabi Musa as. Sebagaimana
tercantum dalam firman Allah swt.:
"Dan berkatalah istri Fir'aun, '(Ia)
biji mata bagiku dan bagimu.
Janganlah kamu membunuhnya,
mudah-mudahan dia bermanfaat bagi
kita atau kita pungut menjadi anak,
sedangkan mereka tidak menyadari." (Q.s.
Al-Qashash: 9).
Kita simak kisah dimana ada dua
wanita di kota Madyan, keduanya
putri Asy-Syekh Al-Kabir, yang
diberi air minum oleh Nabi
Musa as. Kemudian kedua wanita
tersebut mengusulkan kepada ayahnya,
supaya memberi pekerjaan kepada
Nabi Musa as. karena beliau
memiliki amanat (dapat dipercaya)
dan fisiknya kuat. Sebagaimana yang
tertera dalam firman Allah swt.:
"Salah seorang dari kedua wanita itu
berkata, 'Wahai Bapakku, ambillah
dia sebagai orang yang bekerja (kepada
kita), karena sesungguhnya orang
yang terbaik, yang kamu ambil untuk
bekerja (kepada kita) ialah orang
yang kuat dan dapat dipercaya'." (Q.s.
Al-Qashash: 26).
Kita simak lagi kisah ratu
Balqis di negeri Yaman, yang
terkenal adil dan memiliki jiwa
demokrasi. Ratu ini setelah
menerima surat dari Nabi
Sulaiman as. yang isinya seruan
untuk taat kepada Allah dan
menyembah kepada-Nya, lalu dia
meminta pendapat kepada kaumnya
dan bermusyawarah untuk mengambil
sebuah putusan bersama.
Firman Allah swt.:
"Berkata dia (Balqis), 'Hai para
pembesar, berilah aku pertimbangan
dalam urusanku (ini), aku tidak
pernah memutuskan sesuatu persoalan
sebelum kamu berada dalam majelis(ku).'
Mereka menjawab, 'Kita adalah
orang-orang yang memiliki kekuatan
dan (juga) memiliki keberanian
yang luar hiasa (dalam peperangan),
dan keputusan berada di tanganmu;
maka pertimbangkanlah yang akan
kamu perintahkan'." (Q.s. An-Naml:
32-3).
Kemudian dia berkata, sebagaimana
yang telah difirmankan Allah swt.:
"Sesungguhnya raja-raja apabila
memasuki suatu negeri niscaya mereka
membinasakannya, dan menjadikan
penduduknya yang terhormat jadi hina;
dan demikian pulalah yang akan
mereka perbuat." (Q.s. An-Naml: 34).
Kesimpulan dari pendapat ratu
tersebut ialah bahwa
penguasa-penguasa di dunia ini jika
mereka hendak menguasai suatu
negeri, maka mereka akan merusak
dua hal, yaitu merusak negara dan
moral penduduknya.
Oleh karena itu, di dalam
Al-Qur'an telah disebutkan
nama-nama wanita selain
wanita-wanita yang tersebut di atas,
yang ada hubungannya dengan
kisahnya masing-masing. Misalnya,
ibu Nabi Isa as, Maryam Al-Batul.
PERANAN WANITA PADA MASA NABI
MUHAMMAD SAW.
Adapun peranan wanita pada masa
hidupnya Nabi Muhammad saw. yang
kita kenal ialah yang memelihara
Nabi saw, yaitu Aminah ibu beliau;
yang menyusuinya, Halima
As-Sa'diyah; dan yang menjadi hadina
(pengasuh) bagi beliau, Ummu Aiman
r.a. dari Habasyah.
Nabi saw. telah bersabda, "Bahwa
dia adalah ibuku setelah ibuku
sendiri."
Kemudian kita kenal Siti
Khadijah binti Khuwailid r.a,
wanita pertama yang beriman dan
membantunya, Siti Aisyah, Ummu
Salamah, dan lain-lainnya, dari
Ummahaatul Mukmtniin (ibu dari
kaum Mukmin), istri-istri Nabi, dan
istri-istri para sahabat Rasulullah
saw.
AKTIVITAS WANITA MASA KINI
Sebenarnya, usaha (kiprah) kaum
wanita cukup luas meliputi
berbagai bidang, terutama yang
berhubungan dengan dirinya sendiri,
yang diselaraskan dengan Islam,
dalam segi akidah, akhlak dan
masalah yang tidak menyimpang dari
apa yang sudah digariskan atau
ditetapkan oleh Islam.
Wanita Muslimat mempunyai
kewajiban untuk memperkuat
hubungannya dengan Allah dan
menyucikan pikiran serta wataknya
dari sisa-sisa pengaruh pikiran
Barat.
Harus mengetahui cara menangkis
serangan-serangan kebatilan dan
syubuhat terhadap Islam.
Harus diketahui dan
disadari hal-hal yang
melatarbelakanginya, mengapa dia
harus menerima separuh dari bagian
yang diterima oleh kaum laki-laki
dalam masalah hak waris? Mengapa
saksi seorang wanita itu
dianggap separuh dari laki-laki?
Juga harus memahami hakikatnya,
sehingga iman dan Islamnya
bersih, tiada keraguan lagi
yang menyelimuti benak dan
pikirannya.
Dia harus menjalankan secara
keseluruhan mengenai akhlak dan
perilakunya, sesuai dengan yang
dikehendaki oleh Islam. Tidak
boleh terpengaruh oleh sikap
dan perilaku wanita non-Muslim atau
berpaham Barat. Karena mereka
bebas dari pikiran dan
peraturan-peraturan sebagaimana
yang ada pada agama Islam. Mereka
tidak terikat pada perkara halal
dan haram, baik dan buruk.
Banyak diantara kaum wanita yang
meniru mereka secara buta, misalnya
memanjangkan kuku yang menyerupai
binatang buas, pakaian mini,
tipis (transparan), atau setengah
telanjang, dan sebagainya. Cara yang
demikian itu adalah meniru orang
yang buta akan hal-hal terlarang.
Nabi saw. telah bersabda:
"Janganlah kamu menjadi orang yang
tidak mempunyai pendirian dan
berkata, 'Aku ikut saja seperti
orang-orang itu. Jika mereka baik,
aku pun baik; jika mereka jahat, aku
pun jadi jahat.' Tetapi teguhkan
hatimu dengan keputusan bahwa jika
orang-orang melakukan kebaikan, maka
aku akan mengerjakannya; dan jika
orang-orang melakukan kejahatan,
maka aku tidak akan mengerjakan."
PERANAN WANITA DALAM KELUARGANYA
Di dalam Al-Qur'an telah
ditetapkan, semua penetapan dan
perintah ditujukan kepada kedua
pihak, laki-laki dan wanita,
kecuali yang khusus bagi salah
satu dari keduanya. Maka, kewajiban
bagi kaum wanita di dalam
keluarganya ialah menjalankan apa
yang diwajibkan baginya.
Jika dia sebagai anak, kemudian
kedua orangtuanya atau salah satunya
menyimpang dari batas yang telah
ditentukan oleh agama, maka dengan
cara yang sopan dan bijaksana, dia
harus mengajak kedua orangtuanya
kembali ke jalan yang baik, yang
telah menjadi tujuan agama,
disamping tetap menghormati kedua
orangtua.
Wajib bagi setiap wanita (para
istri), yaitu membantu suaminya
dalam menjalankan perintah agama,
mencari rezeki yang halal, menerima
dan mensyukuri yang dimilikinya
dengan penuh kesabaran, dan
sebagainya.
Wajib pula bagi setiap ibu,
mengajar anak-anaknya taat kepada
Allah, yakni dengan menjauhi
larangan-Nya dan menjalankan
perintah-Nya, serta taat
kepada kedua orangtuanya.
Kewajiban bagi setiap wanita
terhadap kawan-kawannya yang
seagama, yaitu menganjurkan untuk
membersihkan akidah dan tauhidnya
dari pengaruh di luar Islam;
menjauhi paham-paham yang
bersifat merusak dan menghancurkan
sendi-sendi Islam dan akhlak yang
luhur, yang diterimanya melalui
buku, majalah, film, dan sebagainya.
Dengan adanya
tindakan-tindakan di luar
Islam, yang ditimbulkan oleh
sebagian kaum Muslimin terhadap
wanita yang kurang bijaksana dan
insaf, maka hal inilah yang
menyebabkan terpengaruhnya
mereka pada peradaban
Barat dan paham-pahamnya.
Harus diakui, bahwa hak-hak
wanita di sebagian masyarakat Islam
belum diberikan secara penuh.
Harus diketahui pula, bahwa suara
pertama dari kaum wanita dalam
menguatkan dakwah dan risalah
Muhammad saw. ialah suara Khadijah
binti Khuwailid r.a. kepada
Rasulullah saw.:
"Demi Allah, Tuhan tidak akan
mengecewakan engkau sama sekali.
Sesungguhnya engkau bersilaturrahmi,
menghubungi keluarga dan mengangkat
beban berat, memberi kepada orang
yang tidak punya, menerima dan
memberi (menghormati) kepada tamu,
serta menolong orang-orang yang
menderita."
Orang pertama yang berperan sebagai
syuhada ialah Ummu Amr binti
Yasir Ibnu Amar yang bernama
Samiah, dia bersama suaminya
disiksa, agar mereka keluar
dari agama Islam. Tetapi mereka
tetap bertahan dan sabar, sehingga
dia mati syahid bersama suaminya.
Ketika Rasulullah saw. melintasi
mereka, dan melihat mereka dalam
keadaan disiksa, lalu Rasulullah
saw. berkata kepada mereka,
"Sabarlah wahai Al-Yasir,
sesungguhnya kita nanti akan
bertemu di surga."
Keterangan:
Artikel ini merupakan artikel lepas
yang ditulis oleh Dr. Yusuf
Al-Qardhawi. Dikutip dari Majalah
"Al-Ummah," no. 66, Pebruari
1986, hlm. 40-5.
|